NAMA : SANDI ROSADI
NIM : 051603503125173
PSIKOLOGI KOMUNIKASI
SISTEM KOMUNIKASI KELOMPOK
1. PENGERTIAN
Komunikasi kelompok adalah komunikasi yang berlangsung antara beberapa
orang dalam suatu kelompok kecil masyarakat seperti dalam rapat,
pertemuan, konferensi, dan sebagainya. Definisi lain menegnai komunikasi
kelompok adalah suatu iteraksi secara bertatap muka antara tiga orang
atau lebih, dengan tujuan yang telah diketahui, seperti berbagi
infomasi, menjaga diri, pemecahan masalah, yang mana anggota-anggotanya
dapat mengingat karakteristik pribadi anggota-anggota yang lain
secaratepat. Kedua definisi komunikasi kelompok di atas mempunyai
kesamaan, yakni adanya komunikasi tatap muka, dan memiliki susunan
rencana kerja tertentu umtuk mencapai tujuan kelompok.
Kelompok adalah sekumpulan orang yang mempunyai tujuan bersama yang
berinteraksi satu sama lain untuk mencapai tujuan bersama, mengenal satu
sama lainnya, dan memandang mereka sebagai bagian dari kelompok
tersebut (Deddy Mulyana, 2005). Kelompok ini misalnya adalah keluarga,
kelompok diskusi, kelompok pemecahan masalah, atau suatu komite yang
tengah berapat untuk mengambil suatu keputusan. Dalam komunikasi
kelompok, juga melibatkan komunikasi antarpribadi. Karena itu kebanyakan
teori komunikasi antarpribadi berlaku juga bagi komunikasi kelompok.
Sifat-sifat komunikasi kelompok sebagai berikut:
1. Kelompok berkomunikasi melalui tatap muka;
2. Kelompok memiliki sedikit partisipan;
3. Kelompok bekerja di bawah arahan seseorang pemimpin;
4. Kelompok membagi tujuan atau sasaran bersama;
5. Anggota kelompok memiliki pengaruh atas satu sama lain.
Jadi, ada dua tanda kelompok secara psikologis, yaitu :
1. Anggota-anggota kelompok merasa terikat dengan kelompok (ada
sense of belonging) yang tidak dimiliki orang yang bukan anggota.
2. Nasib anggota-anggota saling bergantung, sehingga hasil setiap
orang terkait dalam cara tertentu dengan hasil yang lain.
2. PRINSIP-PRINSIP DASAR KOMUNIKASI KELOMPOK
Kelompok merupakan bagian yang tidak dapat dilepaskan dari aktivitas
kita sehari-hari. Kelompok baik yang bersifat primer maupun sekunder,
merupakan wahana bagi setiap orang untuk dapat mewujudkan harapan dan
keinginannya berbagi informasi dalam hamper semua aspek kehidupan. Ia
bias merupakan media untuk mengungkapkan persoalan-persoalan pribadi
(keluarga sebagai kelompok primer), ia dapat merupakan sarana
meningkatkan pengethuan para anggotanya (kelompok belajar) dan ia bias
pula merupakan alat untuk memecahkan persoalan bersama yang dihadapi
seluruh anggota (kelompok pemecahan masalah). Jadi, banyak manfaat yang
dapat kita petik bila kita ikut terlibat dalam seuatu kelompok yang
sesuai dengan rasa ketertarikan (interest) kita. Orang yang memisahkan
atau mengisolasi dirinya dengan orang lain adalah orang yang penyendiri,
orang yang benci kepada orang lain (misanthrope) atau dapat dikatakan
sebagai orang yang antisosial.
Ada empat elemen yang muncul dari definisi yang dikemukakan diatas tersebut, yaitu :
a. elemen pertama adalah interaksi dalam komunikasi kelompok
merupakan faktor yang penting, karena melalui interaksi inilah, kita
dapat melihat perbedaan antara kelompok dengan istilah yang disebut
dengan coact. Coact adalah sekumpulan orang yang secara serentak terkait
dalam aktivitas yang sama namun tanpa komunikasi satu sama lain.
Misalnya, mahasiswa yang hanya secara pasif mendengarkan suatu
perkuliahan, secara teknis belum dapat disebut sebagai kelompok. Mereka
dapat dikatakan sebagai kelompok apabila sudah mulai mempertukarkan
pesan dengan dosen atau rekan mahasiswa yang lain.
b. elemen yang kedua adalah waktu. Sekumpulan orang yang
berinteraksi untuk jangka waktu yang singkat, tidak dapat digolongkan
sebagai kelompok. Kelompok mempersyaratkan interaksi dalam jangka waktu
yang panjang, karena dengan interaksi ini akan dimiliki karakteristik
atau ciri yang tidak dipunyai oleh kumpulan yang bersifat sementara.
c. elemen yang ketiga adalah ukuran atau jumlah partisipan dalam
komunikasi kelompk. Tidak ada ukuran yang pasti mengenai jumlah anggota
dalam suatu kelompok. Ada yang memberi batas 3-8 orang, 3-15 orang dan
3-20 orang. Untuk mengatasi perbedaan jumlah anggota tersebut, muncul
konsep yang dikenal dengan smallness, yaitu kemampuan setiap anggota
kelompk untuk dapat mengenal dan memberi reaksi terhadap anggota
kelompok lainnya. Dengan smallness ini, kuantitas tidak dipersoalkan
sepanjang setiap anggota mampu mengenal dan memberi rekasi pada anggota
lain atau setiap anggota mampu melihat dan mendengar anggota yang
lain/seperti yang dikemukakan dalam definisi pertama.
d. elemen terakhir adalah tujuan yang mengandung pengertian bahwa
keanggotaan dalam suatu kelompok akan membantu individu yang menjadi
anggota kelompok tersebut dapat mewujudkan satu atau lebih tujuannya.
3. FUNGSI KOMUNIKASI KELOMPOK
1. Fungsi pertama dalam kelompok adalah hubungan sosial, dalam arti
bagaimana suatu kelompok mampu memelihara dan memantapkan hubungan
sosial di antara para anggotanya seperti bagaimana suatu kelompok secara
rutin memberikan kesempatan kepada anggotanya untuk melakukan sktivitas
yang informal, santai dan menghibur.
2. Pendidikan adalah fungsi kedua dari kelompok, dalam arti
bagaimana sebuah kelompok secara formal maupun informal bekerja unutk
mencapai dan mempertukarkan pengetahun. Melalui fungsi pendidikan ini,
kebutuhan-kebutuhan dari para anggota kelompok, kelompok itu sendiri
bahkan kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi. Namun demikian, fungsi
pendidikan dalam kelompok akan sesuai dengan yang diharapkan atau tidak,
bergantung pada tiga faktor, yaitu jumlah informasi baru yang
dikontribusikan, jumlah partisipan dalam kelompok serta frekuensi
interaksi di antara para anggota kelompok. Fungsi pendidikan ini akan
sangat efektif jika setiap anggota kelompk membawa pengetahuan yang
berguna bagi kelompoknya. Tanpa pengetahuan baru yang disumbangkan
msing-masing anggota, mustahil fungai edukasi ini akan tercapai.
3. Dalam fungsi persuasi, seorang anggota kelompok berupaya
mempersuasikan anggota lainnya supaya melakukan atau tidak melakukan
sesuatu. Seseorang yang terlibat usaha-usaha persuasif dalam suatu
kelompok, membawa resiko untuk tidak diterima oleh para anggota lainnya.
Misalnya, jika usaha-usaha persuasif tersebut terlalu bertentangan
dengan nilai-nilai yang berlaku dalam kelompok, maka justru orang yang
berusaha mempersuasi tersebut akan menciptakan suatu konflik, dengan
demikian malah membahayakan kedudukannya dalam kelompok.
4. Fungsi keompok juga dicerminkan dengan kegiatan-kegiatannya
untuk memecahkan persoalan dan membuat keputusan-keputusan. Pemecahan
masalah (problem solving) berkaitan dengan penemuan alternatif atau
solusi yang tidak diketahui sebelumnya; sedangkan pembuatan keputusan
(decision making) berhubungan dengan pemilihan antara dua atau lebih
solusi. Jadi, pemecahn masalah menghasilkan materi atu bahan untuk
pembuatan keputusan.
5. Terapi adalah fungsi kelima dari kelompok. Kelompok terapi
memiliki perbedaan dengan kelompok lainnya, karena kelompok terapi tidak
memiliki tujuan. Objek dari kelompok terapi adalah membantu setiap
individu mencapai perubahan personalnhya. Tentunya, individu tersebut
harus berinteraksi dengan anggota kelompok lainnya guna mendapatkan
manfaat, namun usaha utamanya adalh membantu dirinya sendiri, bukan
membantu kelompok mencapai konsensus. Contoh dari kelompok terapi ini
adalah kelompok konsultasi perkawinan, kelompok penderita narkotika,
kelompok perokok berat dan sebagainya. Tindak komunikasi dalam
kelompok-kelompok terapi dikenal dengan nama pengungkapan ciri (self
disclosure). Artinya, dalam suasana yang mendukung, setiap anggota
dianjurkan untuk berbicara secara terbuka tentang apa yang menjadi
permasalahannya. Jika muncul konflik antar anggota dalam diskusi yang
dilakukan, orang yang menjadi pemimpin atau yang memberi terapi yang
akan mengaturnya.
4. PENGARUH KELOMPOK PADA PRILAKU KOMUNIKASI
KONFORMITAS
Konformitas adalah perubahan perilaku atau kepercayaan menuju (norma)
kelompoks sebagai akibat tekanan kelompok-yang real atau dibayangkan.
Bila sejumlah orang dalam kelompok mengatakan atau melakukan sesuatu,
ada kecenderungan para anggota untuk mengatakan dan melakukan hal yang
sama. Jadi, kalau anda merencanakan untuk menjadi ketua kelompok,aturlah
rekan-rekan anda untuk menyebar dalam kelompok. Ketika anda meminta
persetujuan anggota, usahakan rekan-rekan anda secara persetujuan
mereka. Tumbuhkan seakan-akan seluruh anggota kelompok sudah setuju.
Besar kemungkinan anggota-anggota berikutnya untuk setuju juga.
Contoh :
Pada waktu pemilihan Ketua Umum sebuah partai politik yang dihadiri oleh
33 orang perwakilan daerah. Salah seorang calon ketua umum (misalnya A)
merancang 5 orang perwakilan daerah tersebut untuk berbicara dalam
rapat pemilihan tersebut dan menyatakan pilihannya pada A. Maka setelah
kelima orang tersebut selesai berbicara, anggota-anggota perwakilan
daerah lainnya tanpa sadar akan ”terbawa” pada pendapat/pilihankelima
orang tersebut, sehingga akan terpilih Calon A menjadi Ketua Umum.
FASILITASI SOSIAL
Fasilitasi (dari kata Prancis facile, artinya mudah) menunjukkan
kelancaran atau peningkatan kualitas kerja karena ditonton kelompok.
Kelompok mempengaruhi pekerjaan sehingga menjadi lebih mudah. Robert
Zajonz (1965) menjelaskan bahwa kehadiran orang
lain-dianggap-menimbulkan efek pembangkit energi pada perilaku individu.
Efek ini terjadi pada berbagai situasi sosial, bukan hanya didepan
orang yang menggairahkan kita. Energi yang meningkat akan mempertingi
kemungkinan dikeluarkannya respon yang dominan. Respon dominan adalah
perilaku yang kita kuasai. Bila respon yang dominan itu adalah yang
benar, terjadi peningkatan prestasi. Bila respon dominan itu adalah yang
salah, terjadi penurunan prestasi. Untuk pekerjaan yang mudah, respon
yang dominan adalah respon yang banar; karena itu, peneliti-peneliti
melihat melihat kelompok mempertinggi kualitas kerja individu.
Contoh :
Seorang anak sekolah ketika berada di rumah akan terlihat baik
perilakunya . Akan tetapi, ketika anak ini berada di tengah-tengah
kelompoknya (baca : Geng Nero), maka perilakunya akan berubah menjadi
nakal dan agresif. Bahkan ibunya terheran-heran dibuatnya, karena tidak
menyangka anaknya bisa seperti itu, padahal di rumah ia terlihat diam
dan kalem.
POLARISASI
Polarisasi adalah kecenderungan ke arah posisi
yang ekstrem. Bila sebelum diskusi kelompok para anggota mempunyai sikap
agak mendukung tindakan tertentu, setelah diskusi mereka akan lebih
kuat lagi mendukung tindakan itu. Sebaliknya, bila sebelum diskusi para
anggota kelompok agak menentang tindakan tertentu, setelah diskusi
mereka akan menentang lebih keras. Jadi polarisasi adalah proses
mengkutub, baik ke arah mendukung/positif/pro maupun kea rah
menolak/negative/kontra dalam suatu masalah yang diperdebatkan.
5. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KOMUNIKASI KELOMPOK
Anggota-anggota kelompok bekerja sama untuk mencapai dua tujuan:
a. melaksanakan tugas kelompok
b. memelihara moral anggota-anggotanya.
Tujuan pertama diukur dari hasil kerja kelompok-disebut prestasi
(performance) tujuan kedua diketahui dari tingkat kepuasan
(satisfacation). Jadi, bila kelompok dimaksudkan untuk saling berbagi
informasi (misalnya kelompok belajar), maka keefektifannya dapat dilihat
dari beberapa banyak informasi yang diperoleh anggota kelompok dan
sejauh mana anggota dapat memuaskan kebutuhannya dalam kegiatan
kelompok.
Efektivitas kelompok dipengaruhi oleh dua factor, yaitu: factor
situasional (karateristik kelompok dan factor personal (karateristik
para anggota kelompok).
ü Faktor situasional meliputi:
a. ukuran kelompok,
b. jaringan komunikasi,
c. kohesi kelompok,
d. dan kepemimpinan.
ü factor personal meliputi:
a. kebutuhan interpersonal,
b. tindak komunikasi,
c. peranan.
Ada 4 faktor situasional yang mempengaruhi efektifitas komunikasi kelompok sebagai berikut :
1) Ukuran kelompok
Hubungan antara ukuran kelompok dengan prestasi kerja
kelompok/performance bergantung pada jenis tugas yang harus diselesaikan
oleh kelompok.
Sehubungan dengan hal tersebut, ada dua tugas kelompok, yaitu tugas
koaktif dan tugas interaktif. Pada tugas koaktif, masing-masing anggota
bekerja sejajar dengan yang lain, tetapi tidak berinteraksi.Pada tugas
interaktif, anggota-anggota kelompok berinteraksi secara terorganisasi
untuk menghasilkan produk, atau keputusan.
Faktor lain yang mempengaruhi hubungan antara prestasi dan
ukuran kelompok adalah tujuan kelompok. Bila tujuan kelompok memerlukan
kegiatan yang konvergen (mencapai satu pemecahan yang benar), maka hanya
diperlukan kelompok kecil supaya sangat produktif, terutama bila tugas
yang dilakukan hanya membutuhkan sumber, ketrampilan, dan kemampuan yang
terbatas.
Bila tuga memerlukan kegiatan yang divergen (menghasilkan
berbagai kegiatan gagasan kreatif ), diperlukan jumlah anggota kelompok
yang lebih besar.
2) Jaringan komunikasi
Bagan atau gambar Jaringan Kelompok Roda, Rantai, Y, Lingkaran, dan
Jaringan Kelompok Bintang secara lebih lengkap dapat dilihat di buku
Jalaluddin Rahmat, Psikologi Komunikasi.
Pada jaringan komunikasi model roda; seseorang, biasanya pemimpin,
menjadi fokus perhatian. Ia dapat berhubungan dengan semua anggota
kelompok, tetapi setiap anggota kelompok hanya bisa berhubungan dengan
pemimpinnya.
Pada jaringan komunikasi rantai; A dapat berkomunikasi
dengan B, B dapat berkomunikasi dengan dengan C, C dapat berkomunikasi
dengan dengan D, dan begitu seterusnya.
Pada jaringan komunikasi Y, tiga orang anggota dapat berhubungan dengan
orang-orang di sampingnya seperti pada pola rantai, tetapi ada dua orang
yang hanya dapat berkomunikasi dengan hanya seseorang di sampingnya.
Pada jaringan komunikasi lingkaran; setiap orang hanya dapat
berkomunikasi dengan dua orang, di samping kiri dan kanannya. Dengan
perkataan lain, dalam model ini tidak ada pemimpin .
Pada jaringan komunikasi bintang, disebut juga jaringan komunikasi semua
saluran/all channel, setiap anggota dapat berkomunikasi dengan semua
anggota kelompok yang lain.
Dalam hubungannya dengan prestasi kelompok, Leavit menemukan bahwa
jaringan komunikasi roda, yaitu yang paling memusat dari seluruh
jaringan komunikasi, menghasilkan produk kelompok yang tercepat dan
terorganisasi.
Sedangkan kelompok lingkaran, yang paling tidak memusat,
adalah yang paling lambat dalam memacahkan masalah. Jaringan komunikasi
lingkaran cenderung melahirkan sejumlah kesalahan.
Penelitian-penelitian selanjutnya membuktikan bahwa pola komunikasi yang
paling efektif adalah pola semua saluran. Mengapa? Karena pola semua
saluran tidak terpusat pada satu orang pemimpin, dan pola ini juga
paling memberikan kepuasan kepada anggota serta paling cepat
menyelesaikan tugas bila tugas itu berhubungan dengan masalah yang
sulit.
Pola roda adalah pola komunikasi yang memberikan kepuasan paling
rendah.
3) Kohesi kelompok
Kohesi kelompok berarti adanya semangat kelompok yang tinggi, hubungan
interpersonal yang akrab, kestiakawanan, dan perasaan “kita” yang
dalam.
Kohesi kelompok merupakan kekuatan yang mendorong anggota
kelompok untuk tetap tinggal dalam kelompok, dan mencegahnya
meninggalkan kelompok.
Kohesi kelompok diukur dari :
a. keterikatan anggota secara interpersonal satu sama lain
b. ketertarikan anggota pada kegiatan dan fungsi kelompok
c. sejauh mana anggota tertarik pada kelompok sebagai alat untuk memuaskan kebutuhan personalnya.
Menurut Bestinghaus, ada beberapa implikasi komunikasi dalam kelompok kohesif, sebagai berikut :
1. Komunikator dengan mudah berhasil memperoleh dukungan
kelompok. Jika gagasannya sesuai dengan mayoritas anggota kelompok.
2. Pada umumnya kelompok yang lebih kohesif lebih mungkin
dipengaruhi persuasi. Ada tekanan ke arah uniformitas dalam pendapat,
keyakinan, dan tindakan.
3. Komunikasi dengan kelompok yang kohesif harus
memperhitungkan distribusi komunikasi di antara anggota-anggota
kelompok.
4. Dalam situasi pesan tampak sebagai ancaman kepada
kelompok, kelompok yang lebih kohesif akan cenderung menolak pesan.
5. Sebagai konsekuensi dari poin 4 di atas, maka
komunikator dapat meningkatkan kohesi kelompok agar kelompok mampu
menolak pesan yang bertentangan.
4) Kepemimipinan
Kepemimpinan adalah komunikasi yang secara positif mempengaruhi kelompok
untuk bergerak ke arah tujuan kelompok. Kepemimpinan adalah faktor yang
paling menentukan keefektifan komunikasi kelompok. Ada tiga gaya
kepemimpinan, yaitu otoriter, demokratis, dan laissez faire.
6. BENTUK-BENTUK KOMUNIKASI KELOMPOK
Telah banyak klasifikasi kelompok yang dilahirkan oleh para
ilmuwan sosiologi, namun dalam kesempatan ini kita sampaikan hanya tiga
klasifikasi kelompok.
· KELOMPOK PRIMER DAN SEKUNDER
Charles Horton Cooley pada tahun 1909 (dalam Jalaludin Rakhmat, 1994)
mengatakan bahwa kelompok primer adalah suatu kelompok yang
anggota-anggotanya berhubungan akrab, personal, dan menyentuh hati dalam
asosiasi dan kerja sama. Sedangkan kelompok sekunder adalah kelompok
yang anggota-anggotanya berhubungan tidak akrab, tidak personal, dan
tidak menyentuh hati kita.
Jalaludin Rakhmat membedakan kelompok ini
berdasarkan karakteristik komunikasinya, sebagai berikut:
a. Kualitas komunikasi pada kelompok primer bersifat dalam dan
meluas. Dalam, artinya menembus kepribadian kita yang paling
tersembunyi, menyingkap unsur-unsur backstage (perilaku yang kita
tampakkan dalam suasana privat saja). Meluas, artinya sedikit sekali
kendala yang menentukan rentangan dan cara berkomunikasi. Pada kelompok
sekunder komunikasi bersifat dangkal dan terbatas.
b. Komunikasi pada kelompok primer bersifat personal, sedangkan kelompok sekunder nonpersonal.
c. Komunikasi kelompok primer lebih menekankan aspek hubungan
daripada aspek isi, sedangkan kelompok primer adalah sebaliknya.
d. Komunikasi kelompok primer cenderung ekspresif, sedangkan kelompok sekunder instrumental.
e. Komunikasi kelompok primer cenderung informal, sedangkan kelompok sekunder formal.
· KELOMPOK KEANGGOTAAN DAN KELOMPOK RUJUKAN
Theodore Newcomb (1930) melahirkan istilah kelompok keanggotaan
(membership group) dan kelompok rujukan (reference group). Kelompok
keanggotaan adalah kelompok yang anggota-anggotanya secara administratif
dan fisik menjadi anggota kelompok itu. Sedangkan kelompok rujukan
adalah kelompok yang digunakan sebagai alat ukur (standard) untuk
menilai diri sendiri atau untuk membentuk sikap.
Menurut teori, kelompok rujukan mempunyai tiga fungsi: fungsi
komparatif, fungsi normatif, dan fungsi perspektif. Saya menjadikan
Islam sebagai kelompok rujukan saya, untuk mengukur dan menilai keadaan
dan status saya sekarang (fungsi komparatif. Islam juga memberikan
kepada saya norma-norma dan sejumlah sikap yang harus saya
miliki-kerangka rujukan untuk membimbing perilaku saya, sekaligus
menunjukkan apa yang harus saya capai (fungsi normatif). Selain itu,
Islam juga memberikan kepada saya cara memandang dunia ini-cara
mendefinisikan situasi, mengorganisasikan pengalaman, dan memberikan
makna pada berbagai objek, peristiwa, dan orang yang saya temui (fungsi
perspektif). Namun Islam bukan satu-satunya kelompok rujukan saya. Dalam
bidang ilmu, Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) adalah kelompok
rujukan saya, di samping menjadi kelompok keanggotaan saya. Apapun
kelompok rujukan itu, perilaku saya sangat dipengaruhi, termasuk
perilaku saya dalam berkomunikasi.
· KELOMPOK DESKRIPTIF DAN KELOMPOK PRESIKRIPTIF
John F. Cragan dan David W. Wright (1980) membagi kelompok menjadi dua:
deskriptif dan peskriptif. Kategori deskriptif menunjukkan klasifikasi
kelompok dengan melihat proses pembentukannya secara alamiah.
Berdasarkan tujuan, ukuran, dan pola komunikasi, kelompok deskriptif
dibedakan menjadi tiga: a. kelompok tugas; b. kelompok pertemuan; dan c.
kelompok penyadar. Kelompok tugas bertujuan memecahkan masalah,
misalnya transplantasi jantung, atau merancang kampanye politik.
Kelompok pertemuan adalah kelompok orang yang menjadikan diri mereka
sebagai acara pokok.
Melalui diskusi, setiap anggota berusaha belajar lebih banyak tentang
dirinya. Kelompok terapi di rumah sakit jiwa adalah contoh kelompok
pertemuan. Kelompok penyadar mempunyai tugas utama menciptakan identitas
sosial politik yang baru. Kelompok revolusioner radikal; (di AS) pada
tahun 1960-an menggunakan proses ini dengan cukup banyak.
Kelompok preskriptif, mengacu pada langkah-langkah yang harus ditempuh
anggota kelompok dalam mencapai tujuan kelompok. Cragan dan Wright
mengkategorikan enam format kelompok preskriptif, yaitu: diskusi meja
bundar, simposium, diskusi panel, forum, kolokium, dan prosedur
parlementer.
Kesimpulan : Komunikasi kelompok dapat dipergunakan untuk menyelesaikan
tugas, memecah persoalan, membuat keputusan, atau melahirkan gagasan
kreatif, membantu pertumbuhan kepribadian seperti dalam kelompok
pertemuan, atau membangkitkan kasadaran sosial politik.