Minggu, 13 Januari 2019

Psikologi Komunikasi ( Komunikasi Massa )

NAMA : Sandi Rosadi
NIM : 051603503125173
PSIKOLOGI KOMUNIKASI

KOMUNIKASI MASSA

Komunikasi massa adalah proses di mana organisasi media membuat dan menyebarkan pesan kepada khalayak banyak (publik).[1]
Organisasi - organisasi media ini akan menyebarluaskan pesan-pesan yang akan memengaruhi dan mencerminkan kebudayaan suatu masyarakat, lalu informasi ini akan mereka hadirkan serentak pada khalayak luas yang beragam. Hal ini membuat media menjadi bagian dari salah satu institusi yang kuat di masyarakat.
Dalam komunikasi massa, media massa menjadi otoritas tunggal yang menyeleksi, memproduksi pesan, dan menyampaikannya pada khalayak.
Ciri – ciri komunikasi massa
1.   Komunikator dalam komunikasi massa melembaga
2.   Komunikan dalam komunikasi massa bersifat heterogen
3.   Pesannya bersifat umum
4.   Komunikasi berlangsung satu arah
5.   Komunikasi massa menimbulkan keserempakan
6.   Komunikasi massa mengandalkan peralatan teknis
7.   Komunikasi massa dikontrol oleh gate keeper

Fungsi komunikasi massa
Pada umumnya, komunikasi massa memilliki kaitan yang kuat dengan media massa. Secara khusus, komunikasi massa memiliki 10 macam fungsi, sebagai berikut
1.   Fungsi Informasi
2.   Fungsi Hiburan
3.   Fungsi Persuasi
4.   Transmisi Budaya
5.   Mendorong Integrasi Sosial
6.   Pengawasan
7.   Korelasi
8.   Pewarisan Sosial
9.   Melawan Kekuasaan Represif
10. Menggugat Hubungan Trikotomi

Tujuh komponen komunikasi massa
Menurut De Felur dan Denis, terdapat tujuh komponen komunikasi massa, diantaranya
1.   Komunikator. Dalam media masa, komunikator merupakan pihak dari media yang menyampaikan pesan kepada khalayak, seperti jurnalis.
2.   Pesan. Pesan berkaitan dengan konten yang dibuat dari sudut pandang media massa tersebut terhadap suatu isu tertentu.
3.   Media. Dalam komunikasi massa, media diartikan sebagai saluran yang bersifat fisik, seperti media cetak atau media elektronik.
4.   Komunikan. Komunikan terdiri dari kumpulan individu yang menerima pesan dari media massa.
5.   Gate Keeper. Dalam komunikasi massa, gate keeper berperan untuk menentukan pesan masa yang akan disampaikan ke komunikan dan mana yang tidak.
6.   Gangguan.
7.   Timbal Balik.

Efek komunikasi massa


•       Efek komunikasi masa terhadap individu

Menurut Steven A. Chafee, komunikasi massa memiliki efek-efek berikut terhadap individu:
1.   Efek ekonomis: menyediakan pekerjaan, menggerakkan ekonomi (contoh: dengan adanya industri media massa membuka lowongan pekerjaan)
2.   Efek sosial: menunjukkan status (contoh: seseorang kadang-kadang dinilai dari media massa yang ia baca, seperti surat kabar Pos Kota memiliki pembaca berbeda dibandingkan dengan pembaca surat kabar Kompas.
3.   Efek penjadwalan kegiatan
4.   Efek penyaluran/ penghilang perasaan
5.   Efek perasaan terhadap jenis media
Menurut Kappler (1960) komunikasi masa juga memiliki efek:
1.   conversi, yaitu menyebabkan perubahan yang diinginkan dan perubahan yang tidak diinginkan.
2.   memperlancar atau malah mencegah perubahan
3.   memperkuat keadaan (nilai, norma, dan ideologi) yang ada.

•       Efek komunikasi massa terhadap masyarakat dan kebudayaan

1.   Teori Penentuan Agenda oleh Combs dan Shaw achil

Teori- teori komunikasi massa
1.   Hypodermic needle theory
2.   Cultivation theory
3.   Cultural imperalism theory
4.   Media equation theory
5.   Spiral silence theory
6.   Technological determinism theory
7.   Uses and gratification theory
8.   Agenda setting theory
9.   Media critical theory

Sosiologi Komunikasi ( Sosiologi Media Lama dan Media Baru )

NAMA : Sandi  Rosadi
NIM : 051603503125173
SOSIOLOGI KOMUNIKASI
Perbandingan Media Lama & Media Baru
·    Jenis Media Lama dan Media Baru
1.     Media Lama
        Media lama merupakan proses produksi dan penyimpanan data atau informasi yang dibagi menjadi dua bagian yaitu media cetak (koran, majalah, tabloid) dan media elektronik (radio, televisi).
2.     Media Baru
        Media Baru merupakan teknologi komunikasi digital yang terhubung dengan jaringan internet, dimana dalam penyampainnya harus di distribusikan melalui internet atau online. Media baru meliputi portal online, televisi online, radio streaming. Namun, sekarang ini media sosial seperti Twitter, Instagram, Youtube, dan lain-lain dapat dikatakan media baru karena informasi dapat didistribusikan melalui media sosial tersebut.
·        Karakteristik Media Lama dan Media Baru
1.     Media Lama
-       Harus menunggu informasis sesuai jam yang dijadwalkan.
-       Khalayak tidak terhubung pada media dan sesama pengguna.
-       Komunikasi anonim dan heterogen.
-       Mengutamakan isi ketimbang hubungan pada kondisi tertentu.
-       Umpan balik bersifat tertunda dan tidak langsung.
2.     Media Baru
-       Informasi pada situs tertentu tidak bersifat formal sehingga kredibilitas informasi tidak dapat dipertanggungjawabkan.
-       Mudah dalam pencarian informasi yang ingin didapatkan dan tidak terbatas pada jadwal tertentu.
-       Para pengguna dapat terhubung secara langsung.
-       Tidak memungkinkan untuk bersinggungan dengan ruang publik.

·        Kelebihan dan Kekurangan Media Lama dan Media Baru
1.     Kelebihan Media Lama
-       Lebih dapat dipertanggungjawabkan
-       Harga relatif murah
-       Jangkauan luas
2.     Kekurangan Media Lama
-       Biaya percetakan mahal
-       Relatif lebih lama dalam menyajikan informasi
-       Komunikasi satu arah
-       Desentralisasi
3.     Kelebihan Media Baru
-       Informasi dapat disimpan dan dibuka kembali sewaktu-waktu
-       Informasi dapat diakses dimana saja dan kapan saja
-       Dapat berupa teks, gambar, serta video
-       Para pengguna dapat saling berinteraksi satu sama lain
4.     Kekurangan Media Baru
-       Membutuhkan biaya besar
-       Tidak semua masyarakat dapat mengaksesnya
-       Reporter dituntut untuk kerja keras
-       Sulitnya kontrol sosial
-       Informasi sulit dipertanggungjawabkan
·        Karakteristik Audiens Media Lama dan Media Baru
1.     Karakteristik Audiens Media Lama
-       Khalayak tidak terhubung langsung dengan media
-       Khalayak tidak bisa terhubung satu sama lain
-       Bersifat homogen (tergantung sasaran program tertentu)
-       Khalayak sulit memberikan umpan balik
2.     Karakteristik Audiens Media Baru
-       Khalayak dapat terhubung dengan media
-       Khalayak dapat terhubung dan berinteraksi satu sama lain
-       Khalayak dapat lebih kritis dalam memberikan umpan balik

Minggu, 06 Januari 2019

Psikologi Komunikasi ( SISTEM KOMUNIKASI ORGANISASI )

NAMA : SANDI ROSADI
NIM : 051603503125173
PSIKOLOGI KOMUNIKASI

SISTEM KOMUNIKASI ORGANISASI

Redding dan Sanborn (dalam Muhammad, 2009:65) mengatakan bahwa komunikasi organisasi adalah pengiriman dan penerimaan informasi dalam organisasi yang kompleks. Yang termasuk dalam bidang ini adalah komunikasi internal, hubungan manusia, hubungan persatuan pengelola, komunikasi downward atau komunikasi dari atasan dan bawahan, komunikasi upward atau komunikasi dari bawahan ke atasan, komunikasi horizontal atau komunikasi dari orang-orang yang sama level atau tingkatnya dalam organisasi, keterampilan berkomunikasi dan berbicara, mendengarkan, menulis dan komunikasi evaluasi program.
Onong U. Effendy (dalam Suprapto, 2011:105) menyatakan organisasi sebagai suatu sistem yang mapan dari mereka yang bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama, melalui jenjang kepangkatan dan pembagian tugas. Karena komunikasi dalam organisasi mempunyai hubungan dengan satu atau lebih dimensi-dimensi struktur organisasi (misalnya peranan, status, kompleksitas teknologi, pola-pola otoritas, dan sebagainya). Komunikasi organisasi dapat bersifat formal dan informal. Komunikasi formal adalah komunikasi yang disetujui oleh organisasi itu sendiri dan sifatnya berorientasi kepentingan organisasi. Isinya berupa cara kerja di dalam organisasi, produktivitas, dan berbagai pekerjaan yang harus dilakukan dalam organisasi. Adapun komunikasi informal adalah komunikasi yang disetujui secara sosial. Orientasinya bukan pada organisasi , tetapi lebih kepada anggotanya secara individual (Wiryanto, 2006:55).
Perbedaan konseptual mengenai komunikasi organisasi ini terlihat dalam fenomena. Down dan Larimer mengemukakan 21 bidang yang diajarkan dalam mata kuliah komunikasi organisasi yaitu komunikasi dari atasan ke bawahan, komunikasi dari bawahan kepada atasan, teori organisasi, komunikasi horizontal, pembuatan keputusan, komunikasi kelompok kecil, kepemimpinan, teknik penelitian, motivasi, interview, perubahan dan inovasi, pengelolaan konflik, pengembangan organisasi, teknik konferensi, teori manajemen, latihan konsultasi, mendengar, kepuasan kerja, berbicara di muka umum, menulis dan latihan yang sensitif.
Organisasi sebagai kerangka (framework) menunjukkan adanya pembagian tugas antara orang-orang di dalam organisasi itu dan dapat diklasifikasikan sebagai tenaga pimpinan dan tenaga yang dipimpin (Effendy, 2009:122). Komunikasi internal dibagi menjadi dua dimensi, yaitu komunikasi vertikal dan komunikasi horizontal.
a.    Komunikasi Vertikal
Komunikasi vertikal terdiri dari downward communication dan upward communication, adalah komunikasi dari pemimpin kepada bawahan atau dari bawahan kepada pemimpin secara timbal balik (two way traffic communication). Jalan pemikiran manusia yang menjalankannya menentukan suksesnya proses komunikasi yang berdasarkan frame of reference dari masing-masing pelaku komunikasi (Effendy, 2009:36).
b.    Komunikasi Horizontal
Komunikasi horizontal ialah komunikasi secara mendatar, antara anggota sraf dengan anggota staf, karyawan dengan sesama karyawan, dan sebagainya. Komunikasi horizontal cenderung tidak formal, oleh karenanya desas-desus sangat cepat menyebar baik tentang pimpinan maupun tentang kolega. Desas-desus ini yang bisa berkembang menjadi konflik dalam organisasi.
Komunikasi organisasi terjadi kapanpun setidak-tidaknya satu orang yang menduduki suatu jabatan dalam suatu organisasi menafsirkan suatu pertunjukan. Analisis komunikasi organisasi menyangkut penelaahan atas banyak transaksi yang terjadi secara simultan. Sistem tersebut menyangkut pertunjukan dan penafsiran pesan di antara lusinan atau bahkan ratusan individu pada saat yang sama yang memiliki jenis-jenis hubungan berlainan yang menghubungkan yang pikiran, keputusan dan perilakunya diatur oleh kebijakan-kebijakan, regulasi, dan “aturan-aturan”, yang mempunyai gaya berlainan dalam berkomunikasi, mengelola, dan memimpin, yang dimotivasi oleh kemungkinan-kemungkinan yang berbeda, yang berada pada tahap perkembangan berlainan dalam berbagai kelompok yang mempersepsi iklim komunikasi berbeda; yang mempunyai tingkat kepuasan berbeda dan tingkat kecukupan informasi yang berbeda pula; yang lebih menyukai dan menggunkan jenis, bentuk dan metode komunikasi yang berbeda dalam jaringan yang berbeda; yang mempunyai tingkat ketelitian pesan yang berlainan; dan yang membutuhkan penggunaan tingkat materi dan energi yang berbeda untuk berkomunikasi efektif (Pace dan Faules, 2006:33).
Meskipun bermacam-macam persepsi dari para ahli mengenai komunikasi organisasi ini tapi dari semuanya itu ada beberapa hal yang umum yang dapat disimpulkan yaitu:
  1. Komunikasi organisasi terjadi dalam suatu sistem terbuka yang kompleks yang dipengaruhi oleh lingkungannya sendiri baik internal maupun eksternal
  2. Komunikasi organisasi meliputi pesan dan arusnya, tujuan, arah dan media.
  3. Komunikasi organisasi meliputi orang dan sikapnya, perasaannya, hubungannya dan keterampilan atau skilnya.
Dilihat dari prespektif manajemen, organisasi merupakan elaborasi sekelompok saluran-saluran yang saling berhubungan, dirancang untuk mengumpulkan, dan menganalisis menyaring informasi. Komunikasi menyediakan alat-alat untuk pengambilan keputusan, melaksanakan keputusan menerima umpan balik an mengoreksi tujuan serta prosedur organisasi. “Apabila komunikasi berhenti maka aktivitas organisasi akan berhenti. Dengan demikian tinggallah kegiatan-kegiatan individu yang tidak terorganisasi”(Suprapto, 2011:106).

Psikologi Komunikasi ( Resume Chapter SYMBOLIC INTERACTIONISM )

NAMA : SANDI ROSADI
NIM : 051603503125173
PSIKOLOGI KOMUNIKASI 
 
CHAPTER 5. SYMBOLIC INTERACTIONISM

George Herbert Mead
  Early social constructionist who believed that our thoughts, self-concept, and the wider community we live in are created through communication - symbolic interaction. (philosophy professor at University of Chicago for first three decades of 20th century)

Symbolic ineraction
  The ongoing use of language and gestures in anticipation of how the other will react; a conversation; the way we learn to interpret the world
Mead believed that the true test of any theory is whether it is useful in solving complex social problems.


Herbert Blumer
  Mead's chief disciple/student coined the term "symbolic interactionism"
Symbolic Interactionism is what kind of theory?
Interpretive theory that follows the socio-cultural tradition
According to Mead, human's are unique because we can talk to each other (symbolic interaction)- said it was the most human and humanizing activity that we engage in
Herbert Blumer stated three core principles of symbolic interactionism that deal with meaning, language, and thinking

Blumer's first premise of Meaning
  Humans act toward people or things on the basis of the meanings they assign to those people or things; our interpretation is what counts; once people define a situation as real, it's very real in its consequences

Interactionist position on meaning-making
meaning-making is a community project
Interactionist's idea of causality
humans act on their definition of the situation; stimulus ----> interpretation ---> response

Blumer's second premise of Language
  Meaning arises out of the social interaction that people have with each other; meaning isn't inherent in objects nor is it pre-existent in a state of nature - it's negotiated through the use of language; names we use have no logical connection with the object at hand; words we use have default assumptions; significant symbols can be nonverbal and linguistic

What did Mead believe was the basis for human society?

symbolic naming
Interactionists claim the extent of knowing is dependent on the extent of naming

Blumer's third premise of Thinking an individual's interpretation of symbols is modified by his or her own thought processes. Symbolic interactionists describe thinking as inner conversation. mead called this "minding"

Minding
  An inner dialogue used to test alternatives, rehearse actions, and anticipate reactions before responding; self-talk; the pause that's reflective

Mead believed that animals act instinctively and without deliberation - they are unable to think reflectively. Mead's greatest contribution to our understanding of the way we think is his notion that humans have the unique capacity to take the role of the other; he was convinced that thinking is the mental conversation we have with others.

Taking the role of the other
  The process of mentally imagining that you are someone else who is viewing you.

Looking-glass self
Mead's concept; the mental image that comes from taking the role of the other; the objective self; me (interactionist's claim this is socially constructed) - mead borrowed the phrase from sociologist Charles Cooley

Mead-Cooley hypothesis claims that "individuals' self- conceptions result from assimilating the judgments of significant others."
Symbolic interactionists are convinced the self is a function of language. without talk, there would be no self-concept
According to Mead, the self is an ongoing process combining the

"I" and the "me"

"I"

The subjective self; the spontaneous driving force that fosters all that is novel, unpredictable, and unorganized in the self. You never know your "I," because once it is known, it becomes your "me"

"Me"

The objective self; the image of self seen when one takes the role of the other. no "me" at birth; it's formed through continual symbolic interaction; seen as the organized society within the individual (according to Mead)

Generalized other
  The composite mental image a person has of his or her self based on societal expectations and responses. Shapes how we think and interact within the community.

Society, according to Mead consists of individual actors who make their own choices- society in the making rather than society by previous design

Applications of Symbolic Interactionism
1. creating reality 2. meaningful research 3. generalized other 4. naming 5. self-fulfilling prophecy 6. symbol manipulation

Creating reality
goffman claims we are all involved in a constant negotiation with others to publicly define our identity and the nature of the situation

Mead advocates research through participant observation

Participant observation
  A method of adopting the stance of an ignorant yet interested visitor who carefully notes what people say and do in order to discover how they interpret their world.

Name-calling can be devastating because the labels can force us to view ourselves in a warped mirror

Self-fulfilling prophecy
  The tendency for our expectations to evoke responses that confirm what we originally anticipated.

Emmanuel Levinas
  european Jewish philosopher; agrees with Mead that the self is socially constructed. Levinas' responsive "I" the self created by the way we respond to others (not the way others respond to us-what Mead believed); consists of both Mead's "I" and "me"

Ethical Echo term used by Levinas; The reminder that we are responsible to take care of each other; I am my brother's keeper. the way each of us meets that obligation shapes our "I"

Face of the "Other"
  A human signpost that points to our ethical obligation to care for the other before we care for self.

Critique of Symbolic Interactionism poor objective (scientific) theory bc it doesn't meet scientific standards of prediction and testability; doesn't call for a reform of society; The theory's fluid boundaries, vague concepts, and undisciplined approach don't lend them- selves to an elegant summary; suffers from lack of clarity; may suffer from lack of overstatement

CHAPTER 7. EXPECTANCY VIOLATIONS THEORY

Expectancy Violations Theory (EVT) originally focused on the expectations people have about the _____________ behavior of others.

Nonverbal
The study of a person's use of space is called:
Proxemics
Researcher Edward Hall claimed what four zones defined spatial distances for North Americans?
Intimate, personal, social, and public
Your own workspace and computer is considered:
Primary territory
The city park constitutes:
Public territory
Burgoon and Hale argue that two types of expectancies exist: pre-interactional and interactional. Pre-interactional expectations include:
The skills communicators possess before entering a conversation.
Violations of expectancies have _____________, or the ability to cause people to pay attention to the source of the arousal.
Arousal value
The distance at which one feels discomfort in the presence of another is called:
The threat threshold refers to the positive or negative assessment of an unexpected behavior.
Violation valence
EVT's original focus on personal space relates to which criterion for evaluating theory?

Scope

Created by:
Judee Burgoon (1988)

Edward T. Hall's (1966) work on PROXIMICS:

•Intimate Distance (0 - 18 inches)
•Personal Distance (1.5 - 4 feet)
•Social Distance (4 - 12 feet)
•Public Distance (12 - 25 feet)

Hall argued that effective communicators adjust:
Their nonverbal behavior to conform to the expectations of their communication partners.

Assumptions of Expectancy Violations Theory:
•Expectations drive human interaction
•Expectations for human behavior are learned
•People make predictions about nonverbal behaviors

Burgoon pointed out people can:
Either conform or violate expectations.

Burgoon argued that sometimes violating the norms/expectations can be:
A superior strategy to conforming. She also realized that these norms differ by culture.

Territoriality:
A person's sense of ownership of an area or object.

Primary territory:
Exclusive domain over an area or object.

Secondary territory:
A person's affiliation with an area or object.

Public territories:
Open spaces for everyone.

When someone violates our expectation in communication:
We may have a negative - or a positive - reaction.

CHAPTER 16. COGNITIVE DISSONACE THEORY


dissonance : discord between behavior and belief

cognitive dissonance
distressing mental state caused by inconsistency between a person's two beliefs or a belief and an action
three hypotheses of Leon Festinger about dissonance
1. selective exposure prevents dissonance
2. post-decision dissonance creates a need for reassurance
3. minimal justification for action induces a shift in attitude

selective exposure
tendency to avoid exposure to info that creates cognitive dissonance because incompatible with current beliefs

post-decision dissonance
strong doubts experienced after making a close-call, important decision difficult to reverse

minimal justification
claim that the best way to stimulate attitude change in others is to offer JUST enough incentive to elicit counterattitudinal behavior (Stanford $1$/20 experiment)

counterattitudinal advocacy
publicly urging others to believe/do something that is opposed to what the advocate actually believes

self-perception theory
claim that we determine our attitudes the same way that outside observers do

CHAPTER 23. DRAMATISM

Dramatism developed by
Kenneth Burke

Dramatism located in...
Rhetorical tradition, somewhat interpretive

Kenneth Burke
Perhaps the most important twentieth-century rhetorician; developed dramatism

Identification
The recognized common ground between speaker and audience, such as physical characteristics, talents, occupations, etc.

Dramatistic Pentad
A tool to analyze how a speaker attempts to get an audience to accept his or her view of reality by using five key elements of the human drama—act, scene, agent, agency, and purpose

Act
The dramatistic term for what was done. Texts that emphasize act suggest realism.

Scene
The dramatistic term for the context for the act. Texts that emphasize scene downplay free will and reflect an attitude of situational determinism.

Agent
The dramatistic term for the person or kind of person who performs the act. Texts that emphasize agent feature idealism.

Agency
The dramatistic term for the means the agent used to do the deed. Texts that emphasize agency demonstrate pragmatism.

Purpose
The dramatistic term for the stated or implied goal of an act. Texts that emphasize purpose suggest the concerns of mysticism.

God Term
The word a speaker uses to which all other positive words are subservient.

Devil Term
The word a speaker uses that sums up all that is regarded as bad, wrong, or evil.

Guilt
Burke's catch-all term for tension, anxiety, embarrassment, shame, disgust, and other noxious feelings intrinsic in the human condition.

Mortification
Confession of guilt and request for forgiveness

Victimage
Scapegoating; the process of naming an external enemy as the source of all personal or public ills.

Dramatism summary
The use of language to create a symbolic drama in which audience and communicator become identified or consubstantial.



THANK YOU :)

Sabtu, 08 Desember 2018

Psikologi Komunikasi ( Hubungan Komunikasi Intrapersonal dan Interpersonal )

NAMA : SANDI ROSADI

NIM : 051603503125173

PSIKOLOGI KOMUNIKASI

Review Atraksi Hubungan Komunikasi Intrapersonal dan Interpersonal

 KOMUNIKASI INTRAPERSONAL

Komunikasi intrapersonal merupakan proses yang terjadi di dalam individu mulai dari kegiatan menerima pesan atau informasi, mengolah, menyimpan dan menghasilkan kembali. Singkatnya, komunikasi intrapersonal adalah proses pengolahan informasi (Menurut Rakhmat (2000:49)).
Proses komunikasi ini meelewati empat tahap :

1. Sensasi
Tahap awal penrimaan pesan yang diterima oleh sensor atau alat indera manusia (eksteroseptor, interoseptor, propioseptor).
2. Presepsi
Pengalaman tentang objek, peristiwa, hubungan-hubungan yang diperoleh dari menyimpulkan informasi-informsi dan menafsirkan pesan yang diterima. Faktor yang mempengaruhi presepsi :
A.      Perhatian (Faktor eksternal & internal)
Faktor eksternal yang dapat menarik perhatian :
-          Gerak visual pada objek yang bergerak
-          Intensitas stimulin harus diperhatikan lebih
-          Kebauran, hal yang baru dan luar biasa akan menarik perhatian
-          Perulangan, hal yang disajikan berkali-kali namun disertai variasi akan menarik perhatian.
B.      Faktor fungsional
C.      Faktor struktural

3. Memori
Sistem berstruktur yang menyebabkan seeorang sanggup merekam fakta dan menggunakan  pengetahuannya untuk membimbing perilakunya.
Jenis-jenisnya :
a. Pengingatan (Recall) menghasilkan kembali fakta dan informasi secara verbal
b. Pengenalan (Recognition) sukar mengingat kembali jumlah fakta, namun lebih mudah mengenal
c. Belajar lagi (Relearning) menguasai kembali yang sudah diperoleh
d. Redintergrasi (Redintergration) merekontruksi seluruh masa lalu dari satu petunujuk memori kecil

4. Berpikir
Proses dalam pengambilan kesimpulan yang melibatkan sensasi, presepsi, dan memori.

KOMUNIKASI INTERPERSONAL

Komunikasi interpersonal merupakan prosespenukaran informasi atau komunikasi yang dilakukan langsung oleh dua orang secara langsung sehingga komunikan dapat melihat dampak maupun reaksi yang diberikan oleh lawan bicaranya secara verbal maupun non-verbal.
Tujuan komunikasi interpersonal :
  1. Memnemukan diri sendiri, sering bergaul dan berinteraksi dengan orang lain akan membuat kita tahu banyak hal tentang diri kita maupun orang lain.
  2. Menemukan dunia luar, akan lebih mudah memahami orang lain dan lingkungan di luar kita sehingga informasi yang kita dapat akan bertambah dan membuka cakrawala kita.
  3. Membentuk dan menjaga hubungan orang penuh arti, meluangkan waktu untuk komunikasi dengan orang lain akan membentuk dan menjaga hubungan sosial kita dengan orang lain.

Untuk meningkatkan kualitas komunikasi, maka perlu menumbuhkan dan meningkatkan hubungan interpersonal. Unsur lain yaitu :
  1. Percaya
  2. Suportif
  3. Terbuka
Menurut Rakhmat (1994) komunikasi interpersonal dipengaruhi oleh presepsi interpersonal, konsep diri, atraksi interpersonal, dan hubungan interpersonal.

1. Presepsi interpersonal
Memberikan makna terhadap stimuli inderawi yang berasal dari seseorang(komunikan), yang berupa pesan verbal dan nonverbal.

2. Konsep diri
Pandangan dan perasaan kita tentang diri kita.

3. Atraksi interpersonal
Kesukaan pada orang lain, sikap positif dan daya tarik seseorang.

4. Hubungan interpersonal
Hubungan antara seseorang dengan orang lain. Hubungan interpersonal yang baik akan menumbuhkan derajad keterbukaan orang untuk mengungkapkan dirinya, makin cermat persepsinya tentang orang lain dan persepsi dirinya, sehingga makin efektif komunikasi yang berlangsung di antara peserta komunikasi.

Psikologi Kumunikasi ( Sistem Komunikasi Kelompok )

NAMA : SANDI ROSADI
NIM : 051603503125173
PSIKOLOGI KOMUNIKASI
 
SISTEM KOMUNIKASI KELOMPOK

1.    PENGERTIAN
       Komunikasi kelompok adalah komunikasi yang berlangsung antara beberapa orang dalam suatu kelompok kecil masyarakat seperti dalam rapat, pertemuan, konferensi, dan sebagainya. Definisi lain menegnai komunikasi kelompok adalah suatu iteraksi secara bertatap muka antara tiga orang atau lebih, dengan tujuan yang telah diketahui, seperti berbagi infomasi, menjaga diri, pemecahan masalah, yang mana anggota-anggotanya dapat mengingat karakteristik pribadi anggota-anggota yang lain secaratepat. Kedua definisi komunikasi kelompok di atas mempunyai kesamaan, yakni adanya komunikasi tatap muka, dan memiliki susunan rencana kerja tertentu umtuk mencapai tujuan kelompok.
      Kelompok adalah sekumpulan orang yang mempunyai tujuan bersama yang berinteraksi satu sama lain untuk mencapai tujuan bersama, mengenal satu sama lainnya, dan memandang mereka sebagai bagian dari kelompok tersebut (Deddy Mulyana, 2005). Kelompok ini misalnya adalah keluarga, kelompok diskusi, kelompok pemecahan masalah, atau suatu komite yang tengah berapat untuk mengambil suatu keputusan. Dalam komunikasi kelompok, juga melibatkan komunikasi antarpribadi. Karena itu kebanyakan teori komunikasi antarpribadi berlaku juga bagi komunikasi kelompok.
Sifat-sifat komunikasi kelompok sebagai berikut:
1.      Kelompok berkomunikasi melalui tatap muka;
2.      Kelompok memiliki sedikit partisipan;
3.      Kelompok bekerja di bawah arahan seseorang pemimpin;
4.      Kelompok membagi tujuan atau sasaran bersama;
5.      Anggota kelompok memiliki pengaruh atas satu sama lain.

Jadi, ada dua tanda kelompok secara psikologis, yaitu :
1.      Anggota-anggota kelompok merasa terikat dengan kelompok (ada sense of belonging) yang tidak dimiliki orang yang bukan anggota.
2.       Nasib anggota-anggota saling bergantung, sehingga hasil setiap orang terkait dalam cara tertentu dengan hasil yang lain.

2.    PRINSIP-PRINSIP DASAR KOMUNIKASI KELOMPOK
       Kelompok merupakan bagian yang tidak dapat dilepaskan dari aktivitas kita sehari-hari. Kelompok baik yang bersifat primer maupun sekunder, merupakan wahana bagi setiap orang untuk dapat mewujudkan harapan dan keinginannya berbagi informasi dalam hamper semua aspek kehidupan. Ia bias merupakan media untuk mengungkapkan persoalan-persoalan pribadi (keluarga sebagai kelompok primer), ia dapat merupakan sarana meningkatkan pengethuan para anggotanya (kelompok belajar) dan ia bias pula merupakan alat untuk memecahkan persoalan bersama yang dihadapi seluruh anggota (kelompok pemecahan masalah). Jadi, banyak manfaat yang dapat kita petik bila kita ikut terlibat dalam seuatu kelompok yang sesuai dengan rasa ketertarikan (interest) kita. Orang yang memisahkan atau mengisolasi dirinya dengan orang lain adalah orang yang penyendiri, orang yang benci kepada orang lain (misanthrope) atau dapat dikatakan sebagai orang yang antisosial.

Ada empat elemen yang muncul dari definisi yang dikemukakan diatas  tersebut, yaitu :
a.       elemen pertama adalah interaksi dalam komunikasi kelompok merupakan faktor yang penting, karena melalui interaksi inilah, kita dapat melihat perbedaan antara kelompok dengan istilah yang disebut dengan coact. Coact adalah sekumpulan orang yang secara serentak terkait dalam aktivitas yang sama namun tanpa komunikasi satu sama lain. Misalnya, mahasiswa yang hanya secara pasif mendengarkan suatu perkuliahan, secara teknis belum dapat disebut sebagai kelompok. Mereka dapat dikatakan sebagai kelompok apabila sudah mulai mempertukarkan pesan dengan dosen atau rekan mahasiswa yang lain.
b.      elemen yang kedua adalah waktu. Sekumpulan orang yang berinteraksi untuk jangka waktu yang singkat, tidak dapat digolongkan sebagai kelompok. Kelompok mempersyaratkan interaksi dalam jangka waktu yang panjang, karena dengan interaksi ini akan dimiliki karakteristik atau ciri yang tidak dipunyai oleh kumpulan yang bersifat sementara.
c.       elemen yang ketiga adalah ukuran atau jumlah partisipan dalam komunikasi kelompk. Tidak ada ukuran yang pasti mengenai jumlah anggota dalam suatu kelompok. Ada yang memberi batas 3-8 orang, 3-15 orang dan 3-20 orang. Untuk mengatasi perbedaan jumlah anggota tersebut, muncul konsep yang dikenal dengan smallness, yaitu kemampuan setiap anggota kelompk untuk dapat mengenal dan memberi reaksi terhadap anggota kelompok lainnya. Dengan smallness ini, kuantitas tidak dipersoalkan sepanjang setiap anggota mampu mengenal dan memberi rekasi pada anggota lain atau setiap anggota mampu melihat dan mendengar anggota yang lain/seperti yang dikemukakan dalam definisi pertama.
d.      elemen terakhir adalah tujuan yang mengandung pengertian bahwa keanggotaan dalam suatu kelompok akan membantu individu yang menjadi anggota kelompok tersebut dapat mewujudkan satu atau lebih tujuannya.

3.    FUNGSI KOMUNIKASI KELOMPOK
1.      Fungsi pertama dalam kelompok adalah hubungan sosial, dalam arti bagaimana suatu kelompok mampu memelihara dan memantapkan hubungan sosial di antara para anggotanya seperti bagaimana suatu kelompok secara rutin memberikan kesempatan kepada anggotanya untuk melakukan sktivitas yang informal, santai dan menghibur.
2.      Pendidikan adalah fungsi kedua dari kelompok, dalam arti bagaimana sebuah kelompok secara formal maupun informal bekerja unutk mencapai dan mempertukarkan pengetahun. Melalui fungsi pendidikan ini, kebutuhan-kebutuhan dari para anggota kelompok, kelompok itu sendiri bahkan kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi. Namun demikian, fungsi pendidikan dalam kelompok akan sesuai dengan yang diharapkan atau tidak, bergantung pada tiga faktor, yaitu jumlah informasi baru yang dikontribusikan, jumlah partisipan dalam kelompok serta frekuensi interaksi di antara para anggota kelompok. Fungsi pendidikan ini akan sangat efektif jika setiap anggota kelompk membawa pengetahuan yang berguna bagi kelompoknya. Tanpa pengetahuan baru yang disumbangkan msing-masing anggota, mustahil fungai edukasi ini akan tercapai.
3.      Dalam fungsi persuasi, seorang anggota kelompok berupaya mempersuasikan anggota lainnya supaya melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Seseorang yang terlibat usaha-usaha persuasif dalam suatu kelompok, membawa resiko untuk tidak diterima oleh para anggota lainnya. Misalnya, jika usaha-usaha persuasif tersebut terlalu bertentangan dengan nilai-nilai yang berlaku dalam kelompok, maka justru orang yang berusaha mempersuasi tersebut akan menciptakan suatu konflik, dengan demikian malah membahayakan kedudukannya dalam kelompok.
4.      Fungsi keompok juga dicerminkan dengan kegiatan-kegiatannya untuk memecahkan persoalan dan membuat keputusan-keputusan. Pemecahan masalah (problem solving) berkaitan dengan penemuan alternatif atau solusi yang tidak diketahui sebelumnya; sedangkan pembuatan keputusan (decision making) berhubungan dengan pemilihan antara dua atau lebih solusi. Jadi, pemecahn masalah menghasilkan materi atu bahan untuk pembuatan keputusan.
5.      Terapi adalah fungsi kelima dari kelompok. Kelompok terapi memiliki perbedaan dengan kelompok lainnya, karena kelompok terapi tidak memiliki tujuan. Objek dari kelompok terapi adalah membantu setiap individu mencapai perubahan personalnhya. Tentunya, individu tersebut harus berinteraksi dengan anggota kelompok lainnya guna mendapatkan manfaat, namun usaha utamanya adalh membantu dirinya sendiri, bukan membantu kelompok mencapai konsensus. Contoh dari kelompok terapi ini adalah kelompok konsultasi perkawinan, kelompok penderita narkotika, kelompok perokok berat dan sebagainya. Tindak komunikasi dalam kelompok-kelompok terapi dikenal dengan nama pengungkapan ciri (self disclosure). Artinya, dalam suasana yang mendukung, setiap anggota dianjurkan untuk berbicara secara terbuka tentang apa yang menjadi permasalahannya. Jika muncul konflik antar anggota dalam diskusi yang dilakukan, orang yang menjadi pemimpin atau yang memberi terapi yang akan mengaturnya.

4.    PENGARUH KELOMPOK PADA PRILAKU KOMUNIKASI

       KONFORMITAS
Konformitas adalah perubahan perilaku atau kepercayaan menuju (norma) kelompoks sebagai akibat tekanan kelompok-yang real atau dibayangkan. Bila sejumlah orang dalam kelompok mengatakan atau melakukan sesuatu, ada kecenderungan para anggota untuk mengatakan dan melakukan hal yang sama. Jadi, kalau anda merencanakan untuk menjadi ketua kelompok,aturlah rekan-rekan anda untuk menyebar dalam kelompok. Ketika anda meminta persetujuan anggota, usahakan rekan-rekan anda secara persetujuan mereka. Tumbuhkan seakan-akan seluruh anggota kelompok sudah setuju. Besar kemungkinan anggota-anggota berikutnya untuk setuju juga.
Contoh :
Pada waktu pemilihan Ketua Umum sebuah partai politik yang dihadiri oleh 33 orang perwakilan daerah. Salah seorang calon ketua umum (misalnya A) merancang 5 orang perwakilan daerah tersebut untuk berbicara dalam rapat pemilihan tersebut dan menyatakan pilihannya pada A. Maka setelah kelima orang tersebut selesai berbicara, anggota-anggota perwakilan daerah lainnya tanpa sadar akan ”terbawa” pada pendapat/pilihankelima orang tersebut, sehingga akan terpilih Calon A menjadi Ketua Umum.


      FASILITASI SOSIAL
Fasilitasi (dari kata Prancis facile, artinya mudah) menunjukkan kelancaran atau peningkatan kualitas kerja karena ditonton kelompok. Kelompok mempengaruhi pekerjaan sehingga menjadi lebih mudah. Robert Zajonz (1965) menjelaskan bahwa kehadiran orang lain-dianggap-menimbulkan efek pembangkit energi pada perilaku individu. Efek ini terjadi pada berbagai situasi sosial, bukan hanya didepan orang yang menggairahkan kita. Energi yang meningkat akan mempertingi kemungkinan dikeluarkannya respon yang dominan. Respon dominan adalah perilaku yang kita kuasai. Bila respon yang dominan itu adalah yang benar, terjadi peningkatan prestasi. Bila respon dominan itu adalah yang salah, terjadi penurunan prestasi. Untuk pekerjaan yang mudah, respon yang dominan adalah respon yang banar; karena itu, peneliti-peneliti melihat melihat kelompok mempertinggi kualitas kerja individu.
Contoh :
Seorang anak sekolah ketika berada di rumah akan terlihat baik perilakunya . Akan tetapi, ketika anak ini berada di tengah-tengah kelompoknya (baca : Geng Nero), maka perilakunya akan berubah menjadi nakal dan agresif. Bahkan ibunya terheran-heran dibuatnya, karena tidak menyangka anaknya bisa seperti itu, padahal di rumah ia terlihat diam dan kalem.

      POLARISASI

Polarisasi adalah kecenderungan ke arah posisi yang ekstrem. Bila sebelum diskusi kelompok para anggota mempunyai sikap agak mendukung tindakan tertentu, setelah diskusi mereka akan lebih kuat lagi mendukung tindakan itu. Sebaliknya, bila sebelum diskusi para anggota kelompok agak menentang tindakan tertentu, setelah diskusi mereka akan menentang lebih keras. Jadi polarisasi adalah proses mengkutub, baik ke arah mendukung/positif/pro maupun kea rah menolak/negative/kontra dalam suatu masalah yang diperdebatkan.

5.     FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KOMUNIKASI KELOMPOK
Anggota-anggota kelompok bekerja sama untuk mencapai dua tujuan:
a.       melaksanakan tugas kelompok
b.      memelihara moral anggota-anggotanya.
      Tujuan pertama diukur dari hasil kerja kelompok-disebut prestasi (performance) tujuan kedua diketahui dari tingkat kepuasan (satisfacation). Jadi, bila kelompok dimaksudkan untuk saling berbagi informasi (misalnya kelompok belajar), maka keefektifannya dapat dilihat dari beberapa banyak informasi yang diperoleh anggota kelompok dan sejauh mana anggota dapat memuaskan kebutuhannya dalam kegiatan kelompok.
Efektivitas kelompok dipengaruhi oleh dua factor, yaitu: factor situasional (karateristik kelompok dan factor personal (karateristik para anggota kelompok).
ü Faktor situasional meliputi:
a.       ukuran kelompok,
b.      jaringan komunikasi,
c.       kohesi kelompok,
d.      dan kepemimpinan.
ü  factor personal meliputi:
a.       kebutuhan interpersonal,
b.      tindak komunikasi,
c.       peranan.


Ada 4 faktor situasional yang mempengaruhi efektifitas komunikasi kelompok sebagai berikut :
1) Ukuran kelompok
Hubungan antara ukuran kelompok dengan prestasi kerja kelompok/performance bergantung pada jenis tugas yang harus diselesaikan oleh kelompok.
Sehubungan dengan hal tersebut, ada dua tugas kelompok, yaitu tugas koaktif dan tugas interaktif. Pada tugas koaktif, masing-masing anggota bekerja sejajar dengan yang lain, tetapi tidak berinteraksi.Pada tugas interaktif, anggota-anggota kelompok berinteraksi secara terorganisasi untuk menghasilkan produk, atau keputusan.
         Faktor lain yang mempengaruhi hubungan antara prestasi dan ukuran kelompok adalah tujuan kelompok. Bila tujuan kelompok memerlukan kegiatan yang konvergen (mencapai satu pemecahan yang benar), maka hanya diperlukan kelompok kecil supaya sangat produktif, terutama bila tugas yang dilakukan hanya membutuhkan sumber, ketrampilan, dan kemampuan yang terbatas.
Bila tuga memerlukan kegiatan yang divergen (menghasilkan berbagai kegiatan gagasan kreatif ), diperlukan jumlah anggota kelompok yang lebih besar.

2) Jaringan komunikasi
Bagan atau gambar Jaringan Kelompok Roda, Rantai, Y, Lingkaran, dan Jaringan Kelompok Bintang secara lebih lengkap dapat dilihat di buku Jalaluddin Rahmat, Psikologi Komunikasi.
Pada jaringan komunikasi model roda; seseorang, biasanya pemimpin, menjadi fokus perhatian. Ia dapat berhubungan dengan semua anggota kelompok, tetapi setiap anggota kelompok hanya bisa berhubungan dengan pemimpinnya.
   Pada jaringan komunikasi rantai; A dapat berkomunikasi dengan B, B dapat berkomunikasi dengan dengan C, C dapat berkomunikasi dengan dengan D, dan begitu seterusnya.
Pada jaringan komunikasi Y, tiga orang anggota dapat berhubungan dengan orang-orang di sampingnya seperti pada pola rantai, tetapi ada dua orang yang hanya dapat berkomunikasi dengan hanya seseorang di sampingnya.
 Pada jaringan komunikasi lingkaran; setiap orang hanya dapat berkomunikasi dengan dua orang, di samping kiri dan kanannya. Dengan perkataan lain, dalam model ini tidak ada pemimpin .
Pada jaringan komunikasi bintang, disebut juga jaringan komunikasi semua saluran/all channel, setiap anggota dapat berkomunikasi dengan semua anggota kelompok yang lain.
Dalam hubungannya dengan prestasi kelompok, Leavit menemukan bahwa jaringan komunikasi roda, yaitu yang paling memusat dari seluruh jaringan komunikasi, menghasilkan produk kelompok yang tercepat dan terorganisasi.
Sedangkan kelompok lingkaran, yang paling tidak memusat, adalah yang paling lambat dalam memacahkan masalah. Jaringan komunikasi lingkaran cenderung melahirkan sejumlah kesalahan.
Penelitian-penelitian selanjutnya membuktikan bahwa pola komunikasi yang paling efektif adalah pola semua saluran. Mengapa? Karena pola semua saluran tidak terpusat pada satu orang pemimpin, dan pola ini juga paling memberikan kepuasan kepada anggota serta paling cepat menyelesaikan tugas bila tugas itu berhubungan dengan masalah yang sulit.
Pola roda adalah pola komunikasi yang memberikan kepuasan paling rendah.

3) Kohesi kelompok
Kohesi kelompok berarti adanya semangat kelompok yang tinggi, hubungan interpersonal yang akrab, kestiakawanan, dan perasaan “kita” yang dalam.
Kohesi kelompok merupakan kekuatan yang mendorong anggota kelompok untuk tetap tinggal dalam kelompok, dan mencegahnya meninggalkan kelompok.
Kohesi kelompok diukur dari :
a.       keterikatan anggota secara interpersonal satu sama lain
b.      ketertarikan anggota pada kegiatan dan fungsi kelompok
c.       sejauh mana anggota tertarik pada kelompok sebagai alat untuk memuaskan kebutuhan personalnya.
Menurut Bestinghaus, ada beberapa implikasi komunikasi dalam kelompok kohesif, sebagai berikut :
1. Komunikator dengan mudah berhasil memperoleh dukungan kelompok.  Jika gagasannya sesuai dengan mayoritas anggota kelompok.
2. Pada umumnya kelompok yang lebih kohesif lebih mungkin dipengaruhi persuasi. Ada tekanan ke arah uniformitas dalam pendapat, keyakinan, dan tindakan.
3. Komunikasi dengan kelompok yang kohesif harus memperhitungkan distribusi komunikasi di antara anggota-anggota kelompok.
4. Dalam situasi pesan tampak sebagai ancaman kepada kelompok, kelompok yang lebih kohesif akan cenderung menolak pesan.
5. Sebagai konsekuensi dari poin 4 di atas, maka komunikator dapat meningkatkan kohesi kelompok agar kelompok mampu menolak pesan yang bertentangan.

4) Kepemimipinan
Kepemimpinan adalah komunikasi yang secara positif mempengaruhi kelompok untuk bergerak ke arah tujuan kelompok. Kepemimpinan adalah faktor yang paling menentukan keefektifan komunikasi kelompok. Ada tiga gaya kepemimpinan, yaitu otoriter, demokratis, dan laissez faire.

6.    BENTUK-BENTUK KOMUNIKASI KELOMPOK
      Telah banyak klasifikasi kelompok yang dilahirkan oleh para ilmuwan sosiologi, namun dalam kesempatan ini kita sampaikan hanya tiga klasifikasi kelompok.

· KELOMPOK PRIMER DAN SEKUNDER
Charles Horton Cooley pada tahun 1909 (dalam Jalaludin Rakhmat, 1994) mengatakan bahwa kelompok primer adalah suatu kelompok yang anggota-anggotanya berhubungan akrab, personal, dan menyentuh hati dalam asosiasi dan kerja sama. Sedangkan kelompok sekunder adalah kelompok yang anggota-anggotanya berhubungan tidak akrab, tidak personal, dan tidak menyentuh hati kita.

Jalaludin Rakhmat membedakan kelompok ini berdasarkan karakteristik komunikasinya, sebagai berikut:
a. Kualitas komunikasi pada kelompok primer bersifat dalam dan meluas. Dalam, artinya menembus kepribadian kita yang paling tersembunyi, menyingkap unsur-unsur backstage (perilaku yang kita tampakkan dalam suasana privat saja). Meluas, artinya sedikit sekali kendala yang menentukan rentangan dan cara berkomunikasi. Pada kelompok sekunder komunikasi bersifat dangkal dan terbatas.
b. Komunikasi pada kelompok primer bersifat personal, sedangkan kelompok sekunder nonpersonal.
c. Komunikasi kelompok primer lebih menekankan aspek hubungan daripada aspek isi, sedangkan kelompok primer adalah sebaliknya.
d. Komunikasi kelompok primer cenderung ekspresif, sedangkan kelompok sekunder instrumental.
e. Komunikasi kelompok primer cenderung informal, sedangkan kelompok sekunder formal.

· KELOMPOK KEANGGOTAAN DAN KELOMPOK RUJUKAN
Theodore Newcomb (1930) melahirkan istilah kelompok keanggotaan (membership group) dan kelompok rujukan (reference group). Kelompok keanggotaan adalah kelompok yang anggota-anggotanya secara administratif dan fisik menjadi anggota kelompok itu. Sedangkan kelompok rujukan adalah kelompok yang digunakan sebagai alat ukur (standard) untuk menilai diri sendiri atau untuk membentuk sikap.
      Menurut teori, kelompok rujukan mempunyai tiga fungsi: fungsi komparatif, fungsi normatif, dan fungsi perspektif. Saya menjadikan Islam sebagai kelompok rujukan saya, untuk mengukur dan menilai keadaan dan status saya sekarang (fungsi komparatif. Islam juga memberikan kepada saya norma-norma dan sejumlah sikap yang harus saya miliki-kerangka rujukan untuk membimbing perilaku saya, sekaligus menunjukkan apa yang harus saya capai (fungsi normatif). Selain itu, Islam juga memberikan kepada saya cara memandang dunia ini-cara mendefinisikan situasi, mengorganisasikan pengalaman, dan memberikan makna pada berbagai objek, peristiwa, dan orang yang saya temui (fungsi perspektif). Namun Islam bukan satu-satunya kelompok rujukan saya. Dalam bidang ilmu, Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) adalah kelompok rujukan saya, di samping menjadi kelompok keanggotaan saya. Apapun kelompok rujukan itu, perilaku saya sangat dipengaruhi, termasuk perilaku saya dalam berkomunikasi.

· KELOMPOK DESKRIPTIF DAN KELOMPOK PRESIKRIPTIF
John F. Cragan dan David W. Wright (1980) membagi kelompok menjadi dua: deskriptif dan peskriptif. Kategori deskriptif menunjukkan klasifikasi kelompok dengan melihat proses pembentukannya secara alamiah. Berdasarkan tujuan, ukuran, dan pola komunikasi, kelompok deskriptif dibedakan menjadi tiga: a. kelompok tugas; b. kelompok pertemuan; dan c. kelompok penyadar. Kelompok tugas bertujuan memecahkan masalah, misalnya transplantasi jantung, atau merancang kampanye politik. Kelompok pertemuan adalah kelompok orang yang menjadikan diri mereka sebagai acara pokok.
Melalui diskusi, setiap anggota berusaha belajar lebih banyak tentang dirinya. Kelompok terapi di rumah sakit jiwa adalah contoh kelompok pertemuan. Kelompok penyadar mempunyai tugas utama menciptakan identitas sosial politik yang baru. Kelompok revolusioner radikal; (di AS) pada tahun 1960-an menggunakan proses ini dengan cukup banyak.
Kelompok preskriptif, mengacu pada langkah-langkah yang harus ditempuh anggota kelompok dalam mencapai tujuan kelompok. Cragan dan Wright mengkategorikan enam format kelompok preskriptif, yaitu: diskusi meja bundar, simposium, diskusi panel, forum, kolokium, dan prosedur parlementer.

Kesimpulan : Komunikasi kelompok dapat dipergunakan untuk menyelesaikan tugas, memecah persoalan, membuat keputusan, atau melahirkan gagasan kreatif, membantu pertumbuhan kepribadian seperti dalam kelompok pertemuan, atau membangkitkan kasadaran sosial politik.